Monday, December 9, 2013

am I?

Baru saja, saya mengusir seorang anak untuk pulang. Hati saya tersentak seketika, mata saya berkaca-kaca... bukan karena saya tidak mengasihinya. Bukan karena saya tidak ingin melihatnya datang lagi ke sekolah... dia yang sudah tidak memiliki orang tua untuk bersandar dan dibanggakan, dia yang sudah mau bertobat, masakkan saya tega menyuruhnya pulang?
Saya berbisik dalam hati "mengapa kamu begitu kejam? begitu tega mengambil sesuatu yang ia sangat inginkan dan menyuruhnya pulang?"

Saya termenung dibalik meja kerja bersama setumpuk koreksian, saya teringat bagaimana ia begitu mencintai tarian, begitu meluangkan seluruh waktu dan tenaganya untuk berlatih, ikut audisi dan menampilkan yang terbaik untuk pelayanan Natal sekolah tahun ini...bagaimana saya dibuatnya berdecak kagum akan talenta yang sudah Tuhan berikan, bagaimana ia bersemangat menanyakan hasil audisinya dan datang di hari latihan yang pertama...

Sekarang seolah semuanya sia-sia karena ia tidak menepati janjinya untuk pulang tepat waktu dan selalu menghadiri latihan atau meminta ijin terlebih dahulu jika tidak dapat hadir. Hal yang mungkin sangat sederhana dan dapat ditolerir oleh kebanyakan orang, tapi bagi saya itu sangatlah penting, integritas dan ketaatan.

Begitu banyak pertanyaan dalam benak saya. Apakah dia akan datang meminta saya lagi untuk bisa ikut pelayanan? Apakah dia kepahitan? Apakah dia besok tidak mau datang ke sekolah lagi? Apakah setelah ini dia tidak mau terlibat lagi? Apakah dia akan mengurungkan niatnya untuk berubah?
Sedikit cerita, dia dulu adalah seorang murid yang sangat nakal di sekolah yang terdahulu, nilainya banyak yang tidak tuntas, sering ikut tawuran bahkan melakukan kenakalan remaja yang lain seperti membolos dan merokok. Dia dipindahkan ke sekolah ini oleh tantenya mengingat ia tidak lagi memiliki orang tua dan itu adalah amanat orang tuanya. Namun kini ia tidak pernah membolos dan berjanji tidak akan merokok lagi.

Hati saya tidak bisa berbohong, saya begitu mengasihinya, saya begitu terbeban untuk terus menggali potensinya, untuk melihat dia menjadi pribadi yang dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesamanya.
Maafkan Miss Melisa karena hari ini mengambil apa yang begitu kamu idamkan, semoga kamu mengerti Jhordan :)

No comments:

Post a Comment